Akhir Perjalanan Harian "Suara Karya" dan Group "Merdeka"

Oleh Dasman Djamaluddin

Sebuah file Harian "Suara Karya" terakhir yang disebut Jimmy Rajah, mantan wartawan di surat kabar tersebut, sebagai "Suara Karya" asli, menurut pengakuannya dirawatnya dengan baik dan dikasih bingkai di dinding rumahnya. Sebuah dokumen bersejarah.

Suara Karya adalah surat kabar harian di Indonesia yang diterbitkan oleh PT. Suara Rakyat Membangun sejak 11 Maret 1971. Surat kabar ini merupakan salah satu corong media Partai Golongan Karya.

Sudah tentu ini mengingatkan saya akan Bambang Sadono. Hal itu terjadi setelah saya menerima Penghargaan dari Sekretaris Presiden Republik Irak, tanggal 24 Juni 1998 mengenai buku yang saya tulis: "Saddam Hussein Menghalau Tantangan" (Jakarta: PT. Penebar Swadaya, 1998).

Selanjutnya tanggal 23 September 1998 datanglah surat dari Menteri Penerangan RI yang ditandatangani Direktur Jenderal Pembinaan Pers dan Grafika, H. Dailami dengan tembusan kepada Menteri Luar Negeri R.I dan Duta Besar Irak di Jakarta.

Dari surat Menteri Penerangan RI inilah kemudian Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang ditandatangani Ketua Umumnya Tarman Azzam dan Sekretaris Jenderalnya Bambang Sadono, mengucapkan selamat kepada saya atas penulisan buku tersebut. 

Pada tanggal 30 Maret 2000, saya memperoleh surat pribadi dari Bambang Sadono, jika saya masih bisa membantu dirinya bekerja di surat kabar di Jakarta, agar segera menghubunginya. Setelah itu saya membantu desk luar negeri di Harian "Suara Karya," karena Bambang Sadono juga adalah Pemimpin Redaksi di koran tersebut.

Apa yang dialami Jimmy Rajah tidak saya alami, karena saya sudah keluar dari "Suara Karya." Memang benar juga Jimmy Rajah memberi label "Suara Karya" asli. Entahlah saya tidak mengikuti perjalanan Harian "Suara Karya," selanjutnya. 

Harian Merdeka juga Mengalami Hal Sama

Nasib Harian "Merdeka," juga sama. Saya mengetahui nasib Harian "Merdeka," terakhir kali dari Pemimpin Redaksi "Merdeka " Agus Salim Suhana.

Waktu itu, hari Minggu, 24 April 2016, awak "Merdeka" Sangaji 11 Jakarta Pusat akan mengadakan Reuni di Situ Gintung, Ciputat.

Saya melangkahkan kaki menuju ke tempat wisata tersebut. Kebetulan, ketika akan menuju ke sana berpapasan dengan Agus Salim Suhana. Beliau adalah mantan Pemimpin Redaksi Harian Merdeka yang ikut dipecat Bapak Burhanudin Muhamad Diah (B.M. Diah) waktu koran perjuangan tersebut masih eksis mewarnai persuratkabaran di Indonesia, karena koran perjuangan tersebut telah lahir pada 1 Oktober 1945.

Di perjalanan inilah saya menerima informasi tentang situasi terakhir Harian "Merdeka." Sudah terjadi konflik di dalam tubuh Harian "Merdeka."

Akhirnya kami berdua sampai juga di tempat tujuan dengan berjalan kaki ke tempat saung milik wartawan "Merdeka" juga, Anang. Memang benar, di sanalah tujuan kami dalam rangka menghadiri Reuni Awak Kelompok Merdeka yang berlangsung hari itu. Kami diberi tahu, Pak Harmoko sudah hadir. Sudah tentu kami kaget, karena mantan Menteri Penerangan RI yang juga pernah menjadi wartawan Merdeka itu telah hadir lebih dulu. Apalagi dibanding usia, sudah tentu lebih muda dari kami, yaitu 77 tahun. Sementara kami yang hadir di sana boleh dibilang ada yang lebih muda dari itu, tetapi tidak muda sekali, karena kami juga sudah berusia lanjut juga.

Kami terpaku dan sangat gembira bisa bersalaman dan berbincang-bincang dengan Pak Harmoko, tokoh pers yang sangat dikenal di masa-masa Orde Presiden Soeharto. Saya bercerita panjang lebar dengan Pak Harmoko yang duduk dengan santainya di kursi roda. Saya mencoba mengingatkan beliau akan peristiwa setelah buku yang saya tulis:”Butir-Butir Padi B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman” (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992) selesai diterbitkan. Rupanya Pak Diah yang pernah pula lebih dulu menjadi Menteri Penerangan RI mendahalui anak muridnya Harmoko.

Hadir juga Ibu Herawati. Sudah tentu melengkapi nostalgia kami ketika bekerja di Harian "Merdeka," A.M. Sangaji 11 Jakarta Pusat.(*)