Jika Jenderal TNI Basoeki Rachmat Tidak Ada, Orba juga Tidak Ada

Oleh Dasman Djamaluddin

Judul di atas merupakan benang merah dari Diskusi putra bungsu almarhum Jenderal Basoeki Rachmat Anumerta Basoeki Rachmat, Bambang Wasono yang sering dipanggil Mas Nono di Radio Suara Bekasi, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu, 24 Juni 2020.

Selain Mas Nono, perbincangan tersebut dipandu pemilik radio, yaitu Imam Trikarsohadi dan saya, Dasman Djamaluddin penulis buku: "Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar" (Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo). Dicetak dua kali, pertama, bulan Agustus, 1998 dan kedua, bulan Juni 2008.

Mas Nono adalah putra bungsu dari pasangan Jenderal TNI Basoeki Rachmat dengan Ibu Sriwoelan Basoeki Rachmat, yang memiliki tiga putra dan seorang perempuan. Putra pertama, yaitu Bambang Yogianto, Bambang Susanto, Nindiyah Sri Erawati dan Bambang Wasono (Mas Nono) yang berkenan hadir di Studio Radio Suara Bekasi.

Inilah peristiwa yang dijelaskan Mas Nono, sama halnya dengan buku: "Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar," halaman 67, Bab VII "Detik-Detik Lahirnya Supersemar. "

Suasana tanggal 11 Maret 1966, di Istana Merdeka tidak seperti biasanya. Kesatuan Cakrabirawa yang dibantu kesatuan lain, hilir mudik menambah suasana begitu mencekam. Memang pada hari itu akan diselenggarakan sidang paripurna "Kabinet Dwikora yang Disempurnakan."

Suasana di Istana Merdeka bagian belakang, sekelompok mahasiswa tampak memenuhi jalan-jalan dan meneriakan tuntutan," Retool kabinet, turunkan harga dan bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Waktu itu Bung Karno adalah Presiden Republik Indonesia. Tetapi aksi mahasiswa ini tidak bisa dibendung. Di Istana Merdeka hampir 100 menteri hadir, kecuali dua orang, yaitu Drs. Frans Seda, Menteri Perkebunan dan Letnan Jenderal Soeharto, Menteri/ Pangad (Menpangad). Frans Seda dua kali dipanggil dengan helikopter, namun tidak bersedia hadir. Alasan sakit. Sementara Soeharto betul-betul sakit dan telah berpesan dengan memberi sebuah catatan kepada Presiden Soekarno.

Ketika Presiden Soekarno berbicara, tiba-tiba berhenti sebentar. Ia membaca nota berisi informasi, bahwa di luar Istana, tampak bergerak pasukan yang kesatuannya tidak dikenal. Presiden dapat merasakan, jaminan terhadap keselamatannya mulai terancam.

Setelah membaca nota itu, Presiden Soekarno menyerahkan kepada Waperdam I, Dr. Soebandrio yang duduk di sampingnya. Setelah berbicara sebentar, Presiden menskors sidang dan menyerahkan pimpinan sidang kepada Waperdam II, Dr. J. Leimena. Belakangan diketahui, bahwa pasukan tanpa kesatuan ini bertujuan ingin menangkap Soebandrio dan kawan-kawan, bukan ingin menangkap Presiden Soekarno.

Presiden kelihatan tegang, lalu berdiri dan para menteri pun berdiri. Setelah menyalami beberapa menteri di barisan depan, Presiden dengan tergesa-gesa menuju ke luar Istana.

Sesaat kemudian terdengar suara helikopter berwarna perak dengan bendera kuning emas, lambang kepresidenan melintas di atas Istana dan mendarat di halaman depan. Di Istana memang selalu ada helikopter yang selalu "stand by" untuk Presiden Soekarno. Tak terduga karena paniknya, Waperdam I, Soebandrio dan Waperdam III, Chaerul Saleh, ikut menyusul Presiden Soekarno.

Soebandrio karena begitu paniknya, tidak sadar sepatunya tertinggal di ruang sidang. Karena situasinya tidak menentu, banyak yang tidak tahu ke mana Presiden pergi.

Akhirnya diketahui bahwa Presiden Soekarno dan rombongan dengan helikopter pergi ke Istana Bogor. Di Bogor inilah kemudian bermula babak baru Sejarah Indonesia.

Soekarno dan Soeharto Mengenal Baik Basoeki Basoeki Rachmat

Di Istana Bogor, inilah Letjen Soeharto mengutus Letjen Basoeki Rachmat menemui Presiden Soekarno yang didampingi dua Jenderal lainnya, Mayjen M. Jusuf dan Mayjen Amir Machmud. Kenapa Basoeki Rachmat? Karena ia dirasa mampu menjembatani kepentingan Soeharto dan Soekarno.

Waktu itu, sudah tentu Presiden Soekarno marah dengan perustiwa yang baru saja dialaminya. Untuk menemui Presiden yang sedang marah itu, tentu diutus seseorang yang sangat dikenal Presiden. Jika tidak, tidak mungkin  Presiden mau menemui. Hanya Basoeki Rachmat yang cocok menemui Presiden. Ia berhubungan baik selama ini dengan Presiden Soekarno. Seandainya Letjen Soeharto salah mengirim orang, maka Supersemar itu tidak ada dan Orde Baru juga tidak lahir.

Karena pangkat Basoeki Rachmat lebih tinggi dari dua perwira lainnya, otomatis, ia yang memimpin. Ketika pulang, Basoeki Rachmat dijemput ajudannya bernama Stany Soebakir. Ada dua mobil yang mengantarkan mereka ke Jakarta. Mobil mereka melalui jalur Bogor, Cibinong, Jakarta. "Saya masih ingat, tempat ditandatangani naskah itu di Bogor, bukan di Jakarta," ujar Stany Soebakir.

Jadi Supersemar yang asli, kemudian belum ditemukan tersebut, adalah Supersemar dua lembar yang ditandatangani Presiden Soekarno di Bogor. Di manakah Supersemar asli itu sekarang?

Keberadaan naskah asli Surat Perintah 11 Maret 1966 adalah persoalan klasik. Meski demikian, Megawati Soekarnoputri yang pada waktu sebagai Wakil Presiden RI tetap saja mempertanyakan nasib naskah pergantian tampuk kepemimpinan di Indonesia, puluhan tahun lampau itu. Dia waktu itu menyinggungnya saat mengunjungi Gedung Arsip Nasional, di Jalan Ampera, Jakarta Selatan. Megawati prihatin atas raibnya dokumen penting negara tadi. Namun menurut Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia waktu itu, Mukhlis Paeni, saat ini lembaganya sudah menyimpan dua naskah salinan Supersemar. Sayang, kedua naskah salinan itu pun diragukan keasliannya. 

Menurut Mukhlis, ada perbedaan substansial dari naskah salinan asal Pusat Penerangan TNI Angkatan Darat dan Sekretariat Negara tersebut. Contohnya, ada kalimat "Harus diadakan koordinasi dengan Panglima Angkatan" dan "Harus diadakan koordinasi dengan Panglima-panglima Angkatan". Bagi Mukhlis, koordinasi dengan Panglima Angkatan berarti koordinasi hanya dilakukan dengan satu orang saja. Tapi kalau tertulis panglima-panglima, berarti harus berkoordinasi dengan lebih dari satu pucuk pimpinan angkatan bersenjata. Selain itu, terdapat pula penulisan yang berbeda. Satu versi mencantumkan "Supersemar" dan lainnya "Soepersemar."

Untuk meluruskan sejarah, Mukhlis menegaskan akan terus mencari naskah yang benar-benar asli. Niat itu juga diamini Megawati. Sebab putri proklamator Soekarno itu berjanji ikut membantu upaya pencarian naskah asli plus data-data sejarah bangsa. 

Ihwal kebenaran Supersemar sendiri sempat menjadi cerita baru yang mengagetkan. Sebab berdasarkan hasil sebuah seminar bertema " Pengkhianatan Pelaksanaan Supersemar," Supersemar yang ditandatangani Presiden Soekarno itu memberikan mandat kepada Mayor Jenderal Soeharto untuk menertibkan dan memulihkan keamanan yang saat itu tak menentu. Tapi, tentara Soeharto yang kala itu menjabat Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD justru tidak menggunakan surat tersebut sebagaimana mestinya.

 

Sementara kita selama ini menemukan dokumen Supersemar tidak asli yang ditandatangani di Jakarta di Arsip Nasional, kita juga berharap Supersemar asli yang ditandatangani di Bogor, segera bisa ditemukan.(*)