Ternyata Direktur Utama Radio Suara Bekasi Itu Sudah Mengenal Saya Sejak Lama

Oleh Dasman Djamaluddin

Namanya Imam Trikarsohadi yang sering juga disapa Kanjeng Doddy. Ia adalah Direktur Utama Radio Suara Bekasi sejak tahun 2013 sampai sekarang.

Saya beberapa hari ini sering berkunjung ke studionya dalam rangka melakukan wawancara langsung tentang Sejarah Supersemar.

Judul tentang Supersemar merupakan benang merah dari Diskusi putra bungsu almarhum Jenderal Basoeki Rachmat Anumerta Basoeki Rachmat, Bambang Wasono yang sering dipanggil Mas Nono di Radio Suara Bekasi, Bekasi (Jawa Barat), hari Rabu, 24 Juni 2020.

Selain Mas Nono, perbincangan tersebut dipandu pemilik radio, yaitu Imam Trikarsohadi dan saya, Dasman Djamaluddin penulis buku: “Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar” (Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo). Dicetak dua kali, pertama, bulan Agustus, 1998 dan kedua, bulan Juni 2008.

Mas Nono adalah putra bungsu dari pasangan Jenderal TNI Basoeki Rachmat dengan Ibu Sriwoelan Basoeki Rachmat, yang memiliki tiga putra dan seorang perempuan. Putra pertama, yaitu Bambang Yogianto, Bambang Susanto, Nindiyah Sri Erawati dan Bambang Wasono (Mas Nono) yang berkenan hadir di Studio Radio Suara Bekasi, Bekasi (Jawa Barat).

Inilah peristiwa yang dijelaskan Mas Nono, sama halnya dengan buku: “Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar,” halaman 67, Bab VII “Detik-Detik Lahirnya Supersemar. “

Suasana tanggal 11 Maret 1966, di Istana Merdeka tidak seperti biasanya. Kesatuan Cakrabirawa yang dibantu kesatuan lain, hilir mudik menambah suasana begitu mencekam. Memang pada hari itu akan diselenggarakan sidang paripurna “Kabinet Dwikora yang Disempurnakan.”

Suasana di Istana Merdeka bagian belakang, sekelompok mahasiswa tampak memenuhi jalan-jalan dan meneriakan tuntutan,” Retool kabinet, turunkan harga dan bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Waktu itu Bung Karno adalah Presiden Republik Indonesia. Tetapi aksi mahasiswa ini tidak bisa dibendung. Di Istana Merdeka hampir 100 menteri hadir, kecuali dua orang, yaitu Drs. Frans Seda, Menteri Perkebunan dan Letnan Jenderal Soeharto, Menteri/ Pangad (Menpangad). Frans Seda dua kali dipanggil dengan helikopter, namun tidak bersedia hadir. Alasan sakit. Sementara Soeharto betul-betul sakit dan telah berpesan dengan memberi sebuah catatan kepada Presiden Soekarno.

Ketika Presiden Soekarno berbicara, tiba-tiba berhenti sebentar. Ia membaca nota berisi informasi, bahwa di luar Istana, tampak bergerak pasukan yang kesatuannya tidak dikenal. Presiden dapat merasakan, jaminan terhadap keselamatannya mulai terancam.

Setelah membaca nota itu, Presiden Soekarno menyerahkan kepada Waperdam I, Dr. Soebandrio yang duduk di sampingnya. Setelah berbicara sebentar, Presiden menskors sidang dan menyerahkan pimpinan sidang kepada Waperdam II, Dr. J. Leimena. Belakangan dikerahui, bahwa pasukan tanpa kesatuan ini bertujuan ingin menangkap Soebandrio dan kawan-kawan, bukan ingin menangkap Presiden Soekarno.

Presiden kelihatan tegang, lalu berdiri dan para menteri pun berdiri. Setelah menyalami beberapa menteri di barisan depan, Presiden dengan tergesa-gesa menuju ke luas Istana.

Sesaat kemudian terdengar suara helikopter berwarna perak dengan bendera kuning emas, lambang kepresidenan melintas di atas Istana dan mendarat di halaman depan. Di Istana memang selalu ada helikopter yang selalu “stand by” untuk Presiden Soekarno. Tak terduga karena pabriknya, Waperdam I, Soebandrio dan Waperdam III, Chaerul Saleh, ikut menyusul Presiden Soekarno.

Soebandrio karena begitu pabriknya, tidak sadar sepatunya tertinggal di ruang sidang. Karena situasinya tidak menentu, banyak yang tidak tahu ke mana Presiden pergi.

Akhirnya diketahui bahwa Presiden Soekarno dan rombongan dengan helikopter pergi ke Istana Bogor. Di Bogor inilah kemudian bermula babak baru Sejarah Indonesia.

Soekarno dan Soeharto Mengenal Baik Basoeki Rachmat

Di Istana Bogor, inilah Letjen Soeharto mengutus Letjen Basoeki Rachmat menemui Presiden Soekarno yang didampingi dua Jenderal lainnya, Mayjen M. Jusuf dan Mayjen Amirmachmud. Kenapa Basoeki Rachmat? Karena ia dirasa mampu menjembatani kepentingan Soeharto dan Soekarno. Waktu itu, sudah tentu Presiden Soekarno marah dengan perustiwa yang baru saja dialaminya. Untuk menemui Presiden yang sedang marah itu, tentu diutus seseorang yang sangat dikenal Presiden. Jika tidak, tidak mungkin mau ditemui Presiden. Hanya Basoeki Rachmat yang cocok menemui Presiden. Ia berhubungan baik selama ini dengan Presiden Soekarno. Seandainya Letjen Soeharto salah mengirim orang, maka Supersemar itu tidak ada dan Orde Baru juga tidak lahir.

Karena pangkat Basoeki Rachmat lebih tinggi dari dua perwira lainnya, otomatis, ia yang memimpin. Ketika pulang, Basoeki Rachmat dijemput ajudannya bernama Stany Soebakir. Ada dua mobil yang mengantarkan mereka ke Jakarta. Mobil mereka melalui jalur Bogor, Cibinong, Jakarta. “Saya masih ingat, tempat ditandatangani naskah itu di Bogor, bukan di Jakarta,” ujar Stany Soebakir.

Jadi Supersemar yang asli, kemudian belum ditemukan tersebut, adalah Supersemar dua lembar yang ditandatangani Presiden Soekarno di Bogor. Di manakah Supersemar asli itu sekarang?

Keberadaan naskah asli Surat Perintah 11 Maret 1966 adalah persoalan klasik. Meski demikian, Megawati Soekarnoputri yang pada waktu sebagai Wakil Presiden RI tetap saja mempertanyakan nasib naskah pergantian tampuk kepemimpinan di Indonesia, puluhan tahun lampau itu. Dia waktu itu menyinggungnya saat mengunjungi Gedung Arsip Nasional, di Jalan Ampera, Jakarta Selatan. Megawati prihatin atas raibnya dokumen penting negara tadi. Namun menurut Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia waktu itu, Mukhlis Paeni, saat ini lembaganya sudah menyimpan dua naskah salinan Supersemar. Sayang, kedua naskah salinan itu pun diragukan keasliannya.

Menurut Mukhlis, ada perbedaan substansial dari naskah salinan asal Pusat Penerangan TNI Angkatan Darat dan Sekretariat Negara tersebut. Contohnya, ada kalimat “Harus diadakan koordinasi dengan Panglima Angkatan” dan “Harus diadakan koordinasi dengan Panglima-panglima Angkatan”. Bagi Mukhlis, koordinasi dengan Panglima Angkatan berarti koordinasi hanya dilakukan dengan satu orang saja. Tapi kalau tertulis panglima-panglima, berarti harus berkoordinasi dengan lebih dari satu pucuk pimpinan angkatan bersenjata. Selain itu, terdapat pula penulisan yang berbeda. Satu versi mencantumkan “Supersemar” dan lainnya “Soepersemar.”

Untuk meluruskan sejarah, Mukhlis menegaskan akan terus mencari naskah yang benar-benar asli. Niat itu juga diamini Megawati. Sebab putri proklamator Soekarno itu berjanji ikut membantu upaya pencarian naskah asli plus data-data sejarah bangsa.

Ihwal kebenaran Supersemar sendiri sempat menjadi cerita baru yang mengagetkan. Sebab berdasarkan hasil sebuah seminar bertema ” Pengkhianatan Pelaksanaan Supersemar,” Supersemar yang ditandatangani bekas Presiden Soekarno itu memberikan mandat kepada Mayor Jenderal Soeharto untuk menertibkan dan memulihkan keamanan yang saat itu tak menentu. Tapi, tentara Soeharto yang kala itu menjabat Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD justru tidak menggunakan surat tersebut sebagaimana mestinya.

Keberadaan naskah asli Surat Perintah 11 Maret 1966 adalah persoalan klasik. Meski demikian, Megawati Soekarnoputri yang pada waktu sebagai Wakil Presiden RI tetap saja mempertanyakan nasib naskah pergantian tampuk kepemimpinan di Indonesia, puluhan tahun lampau itu. Dia waktu itu menyinggungnya saat mengunjungi Gedung Arsip Nasional, di Jalan Ampera, Jakarta Selatan. Megawati prihatin atas raibnya dokumen penting negara tadi. Namun menurut Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia waktu itu, Mukhlis Paeni, saat ini lembaganya sudah menyimpan dua naskah salinan Supersemar. Sayang, kedua naskah salinan itu pun diragukan keasliannya.

Menurut Mukhlis, ada perbedaan substansial dari naskah salinan asal Pusat Penerangan TNI Angkatan Darat dan Sekretariat Negara tersebut. Contohnya, ada kalimat “Harus diadakan koordinasi dengan Panglima Angkatan” dan “Harus diadakan koordinasi dengan Panglima-panglima Angkatan”. Bagi Mukhlis, koordinasi dengan Panglima Angkatan berarti koordinasi hanya dilakukan dengan satu orang saja. Tapi kalau tertulis panglima-panglima, berarti harus berkoordinasi dengan lebih dari satu pucuk pimpinan angkatan bersenjata. Selain itu, terdapat pula penulisan yang berbeda. Satu versi mencantumkan “Supersemar” dan lainnya “Soepersemar.”

Untuk meluruskan sejarah, Mukhlis menegaskan akan terus mencari naskah yang benar-benar asli. Niat itu juga diamini Megawati. Sebab putri proklamator Soekarno itu berjanji ikut membantu upaya pencarian naskah asli plus data-data sejarah bangsa.

Ihwal kebenaran Supersemar sendiri sempat menjadi cerita baru yang mengagetkan. Sebab berdasarkan hasil sebuah seminar bertema ” Pengkhianatan Pelaksanaan Supersemar,” Supersemar yang ditandatangani bekas Presiden Soekarno itu memberikan mandat kepada Mayor Jenderal Soeharto untuk menertibkan dan memulihkan keamanan yang saat itu tak menentu. Tapi, tentara Soeharto yang kala itu menjabat Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD justru tidak menggunakan surat tersebut sebagaimana mestinya.

Sementara kita selama ini menemukan dokumen Supersemar tidak asli yang ditandatangani di Jakarta di Arsip Nasional, kita juga berharap Supersemar asli yang ditandatangani di Bogor, segera bisa ditemukan.

Hari Pers Nasional

Juga ketika menyambut Hari Pers Nasional 2020, kali ini diperingati di Radio Suara Bekasi yang dikomandani Imam Trikarsohadi.

Hari itu yang jadi nara sumber adalah Nurman Diah, putra tokoh pers, Burhanudin Mohamad (B.M) Diah dan saya sendiri : Dasman Djamaluddin, mantan wartawan harian “Merdeka” pimpinan B.M. Diah yang terbit sejak 1 Oktober 1945.

B.M. Diah bukan hanya dikenal sebagai wartawan sebelum masa merdeka. Ia juga waktu itu dikenal sebagai Ketua Pemuda “Angkatan Baru 45.” Perjuangan B.M. Diah sebagai Ketua Pemuda “Angkatan Baru 45″ dapat dibaca di dalam buku yang diterbitkan tahun 2018 oleh Yayasan Pustaka Obor,” milik tokoh pers Mochtar Lubis (almarhum).

B.M. Diah adalah putra Aceh. Ia meninggal dunia pada hari Senin, 10 Juni 1996 di usia 79 tahun.

Ketika usia B.M. Diah 70 tahun, ia memperoleh kesempatan emas mewawancarai Sekretrais Jenderal Partai Komunis Uni Soviet, Mikhail Gorbachev di Kremlin, Moskow. Ia menganggap pertemuannya dengan Gorbachev sebagai mahkota seorang wartawan.

Ketika ada yang mempertanyakan kontinuitas penerbitan harian “Merdeka” sejak 1945 hingga meninggalnya tahun 1996 bahkan beberapa tahun setelah itu, saya berpendapat dikarenakan harian “Merdeka” memiliki garis politik yang jelas. Landasan tetap setia kepada Republik Proklamasi, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Tahun 1970 hingga selanjutnya adalah mempelopori perjuangan nasional mempertahankan Republik Proklamasi, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Siapa Imam Trikarsohadi

Imam Trikarsohadi lahir di Cirebon, pada 3 Juni 1965. Karier Jurnalistik telah dilaluinya dengan beragam, mulai menjadi wartawan "Kompas Group" tahun 1988-1990, wartawan Harian "Pelita" tahun 1990-1991, Harian Neraca 1992-1993, Redaktur Majalah "Harmonis" tahun 1991, Redaktur Ahli Harian "Angkatan Bersenjata" 1991-1997, Redaktur Pelaksana Harian Umum ABRI 1997-1999."

Setelah itu, ia jadi Pimimpin redaksi tabloid HK (Divhumas Mabes Polri) tahun 1999-2002, Pemimpin Redaksi Harian Perintis (saat operasi  Aceh) tahun 2002-2004, chief editor harian "The President Post" tahun 2004-2008 hingga menjadi Direktur Utama Radio Suara Bekasi 2013 hingga sekarang.

Melihat perjalanan karier Imam Trikarsohadi, ternyata ia sejak lama sudah mengenal saya.

Saya juga pernah bekerja di Biro Jakarta Pers Daerah "Kompas" dan di harian "Sriwijaya Post" di Palembang. Saya ditempatkan di Palembang, Sumatera Selatan atas jasa wartawan senior harian "Kompas," Valens Goa Doy. Awalnya saya adalah salah seorang yang ikut hengkang mengikuti jejak Azkarmin Zaini ke harian "Pelita," manajemen baru.

Sebelumnya saya sudah bergabung di Kelompok Penerbitan Kompas di Jakarta setelah majalah "Topik," (kelompok Merdeka pimpinan Burhanudin Mohamad Diah) tidak terbit lagi. Saya bergabung di Kelompok Kompas (dulu namanya Pers Daerah) pada tanggal 15 Maret 1989 hingga 17 Juni 1990. Singkat sekali, karena saya kemudian bergabung dengan mantan wartawan "Kompas," Sudirman Tebba, Purnama Kusumaningrat dan seorang lagi Zaili Asril di bawah pimpinan mantan Sekretaris Redaksi harian "Kompas," Azkarmin Zaini ke harian "Pelita" manajemen baru.

Harian "Pelita," gagal berkembang dan Azkarmin Zaini kemudian menjadi  Direktur News, Sports & Corporate Communications televisi ANTV dan salah satu wartawan senior Indonesia. Sebelumnya dia menjabat sebagai Pemimpin Redaksi ANTV sejak jaringan televisi itu berdiri tahun 1993 - 2005 dan pada tahun 2007 - 2010.

Waktu saya ingin pindah ke harian "Pelita " manajemen baru dari Grup "Kompas," Raymond Toruan menemui saya dan disinilah saya kenal baik dengan wartawan senior Grup Kompas, "The Jakarta Post," yang juga ikut mengurusi Pers Daerah "Kompas" waktu itu.

Akan halnya wartawan senior "Kompas," Valens Goa Doy," dari beliaulah saya belajar kebaikan sebuah hati. Mana mungkin bila seseorang sudah menyatakan mengundurkan diri, kemudian kembali ingin bergabung, kembali diterima. Itulah dia Valens Goa Doy.

Ketika terdengar wartawan senior Valens Goa Doy itu menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 21.30 Wita, Selasa 3 Mei 2005, saya berdoa semoga wartawan baik itu sudah hidup damai di alam sana.

Hubungan saya meski tidak lagi terjalin melalui dunia jurnalistik dengan Grup Kompas, tetapi hubungan itu terjalin melalui penulisan buku. Terakhir saya menerbitkan buku sebagai editor buku: "Catatan BM Diah," yang diterbitkan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, tahun 2018. Meski tidak terlihat peranan Penerbit Kompas, sesungguhnya kedua penerbitan ini bekerjasama.

Juga buku saya "Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supesemar" diterbitkan Grasindo dua kali, yaitu tahun 1998 dan diterbitkan lagi tahun 2008. Grasindo adalah PT. Gramedia Widiasarana Indonesia beralamat di Gedung Kompas Gramedia.

Menariknya yaitu ketika menulis buku: "Rais Abin, Panglima Pasukan PBB di Timur Tengah 1976-1979" (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2012), waktu itu Pemimpin Umum Harian Kompas Jacob Oetama bersedia menulis "Sekapur Sirih," dalam buku tersebut.

Lebih menarik lagi pada hari Kamis, 26 Juli 2012, saya diajak Ketua Umum Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Rais Abin menemui Pemimpin Umum dan Pendiri Harian "Kompas" Dr (HC) Jakob Oetama. Saya merasa bangga karena bisa menyaksikan kedua sahabat yang sezaman ini bersenda gurau di lantai VI Harian "Kompas." Usia Jakob Oetama, tidak begitu jauh terpaut dengan Rais Abin karena beliau lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931.

Jakob Oetama sangat konsisten dengan tugasnya sebagai wartawan. Waktu itu ia merupakan Presiden Direktur Kelompok Kompas-Gramedia. Seorang rekan pernah membisiki saya, apakah benar atau tidak informasi itu bahwa pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, beliau pernah ditawari jabatan Menteri Penerangan RI oleh Harmoko? Memang benar tawaran tersebut, tetapi Jakob Oetama menolak.

Pada waktu pembicaraan ini, Jakob Oetama ditemani Redaktur Senior Kompas August Parengkuan yang kemudian dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Italia.(*)