Mahasiswa Australia Belajar Sekolah Sungai Muhammadiyah

Yogyakarta (855.news.com) - Sebanyak 16 (enam belas) mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Australia, seperti ; Brisbane, Sydney, Meulborne, Perth,  mengikuti program Sekolah Sungai Muhammadiyah I kawasan Sungai Code Yogyakarta,  Jum’at  9 Februari 2018.  

Mereka didampingi Majelis Lingkungan Hidup PWM DIY dan MLH PDM Kota Yogyakarta, dalam kemepatan ini mereka langsung turun dengan menyusuri sungai dan jelajah kampung codeuntuk melihat langsung tentang pengelolaan Kali Code, kebersihan sungai, sanitasi lingkungan, kesehatan masyarakat, mitigasi bencana berbasis masyarakat(PRB). Mereka juga berdialog dengan masyarakat bantaran kali dan melihat langsung dari dekat kehidupan masyaralat bantaran kali code. 

Menurut Hery Setiyawa yang juga Ketua MLH PDM Kota Yogyakarta kesan mereka cukup puas dalam mengikuti observasi ke Sekolah Sungai Muhammadiyah ini, mereka dapat menimba ilmu dari para pegiat sungai secara langsung dan berdialog dengan masyarakat di bantaran Kali Code, di mana di Australia tidak ada relawan atau pegiat sungai seperti di sini.

Seperi kita ketahui bahwa air dari mata air (hulu) sampai di beberapa tempat (hilir) untuk dapat dimanfaatkan melalui jalannya sendiri, yakni Sungai. Keberadaan sungai sebagai Medium Kesejahteraan eksistensi dan fungsinya kurang dipahami dan dimengerti dengan baik oleh manusia sehingga perilakunya terhadap sungai bahkan daerah aliran sungai (DAS) kurang tepat. Oleh karena itu, diperlukan upaya penyadaran masyarakat oleh berbagai pihak secara bersama-sama dan simultan menuju SUNGAI ASRI LESTARI-HIDUP NYAMAN LESTARI. Untuk itulah Muhammadiyah sebagai bagian dari masyarakat sudah sewajarnya ambil bagian dalam upaya tersebut dengan mengembangankan SEKOLAH SUNGAI MUHAMMADIYAH (SSM). 

SSM merupakan lembaga pendidikan non formal yang dilaksanakan baik dalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor). Implementasi SSM didasarkan pada Teologi Lingkungan, Akhlak Lingkungan, Fikih Air dan Panduan Pendidikan Lingkungan yang telah disusun oleh MLH PP Muhammadiyah. 

Sementara itu menurut Dr. Gatot Supangkat, sekjen MLH PP Muhammadiyah yang kami hubungi, menandaskan bahwa “SSM ini bersifatnya informal dan berbasis komunitas sehingga MLH PP Muhammadiyah juga menggandeng kalangan perguruan tinggi dan pegiat sungai agar bisa berjalan maksimal. Selain itu MLH PP Muhammadiyah di SSM ini kami mengedepankan pendidikan non-formal. Artinya siapa saja bisa ikut dalam kegiatan Sekolah/Pesantren Sungai. Terbuka untuk siapapun, bukan hanya untuk orang Muslim saja. SSM ini juga merupakan bagian dari dakwah Muhammadiyah. Salah satunya dengan cara memuliakan air dan melestarikan lingkungan hidup”. (hidayat tri)