Rakorwil MLH PWM Regional Kalimantan; PTM se-Kalimantan Kembangkan Pengelolaan Hutan Pendidikan

Palangkaraya (855.news.com) -- Isu-isu lingkungan merupakan hal yang paling penting di abad  ke-21,  pengembangan Hutan Pendidikan adalah bukti kepedulian Muhammadiyah terhadap proteksi biodiversity.

Demikian diungkap Dr. Gatot Supangkat ketika membuka acara Rakorwil MLH PWM se-Kalimantan di Aula Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, Selasa 6 Maret 2018.

“Niat Pemerintah dan Muhammadiyah dalam pengembangan hutan adalah karena Allah SWT. Pengembangan hutan pendidikan misalnya, maka hal ini perlu dilakukan pengurusan paten terhadap temuan-temuan hasil riset yang kita lakukan,” paparnya.  

Hutan pendidikan yang dikelola oleh Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) ini tidak hanya di Kalimantan Tengah seluas 5000 Ha, akan tetapi juga di beberapa Provinsi lainnya seperti Bengkulu, NTT, dan Sumatera Barat.

“Amanah ini harus kita jaga sebagai komitmen terhadap pelestarian lingkungan," tuturnya.  

Pengelolaan Hutan Pendidikan yang mandiri dan lestari merupakan goal yang akan kita capai bersama. Untuk itulah perlu adanya sinergi yang baik melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan pendampingan terhadap masyarakat di sekitar hutan pendidikan melalui program-program aksi adalah sebuah keniscayaan yang harus dijalankan secara terencana, sistematis dan berkelanjutan. 

Seperti diketahui bahwa Hutan Pendidikan merupakan hutan yang diperuntukkan untuk kegiatan praktik, penelitian, pelatihan, pengabdian kepada masyarakat dan kerjasama penelitian baik dalam maupun luar negeri. Selain itu, kawasan ini dapat pula digunakan sebagai tempat rekreasi alam berbasis pendidikan lingkungan. 

Hutan Pendidikan memiliki potensi fisik, potensi biologi, dan potensi sosial yang strategis untuk dikelola sebagai pusat pendidikan, penelitian, pelatihan, dan pelayanan kehutanan. Aktivitas pendidikan yang berlangsung di Hutan Pendidikan dapat berupa kegiatan praktek dan penelitian yang terkait dengan ilmu-ilmu kehutanan dasar seperti inventarisasi, perencanaan, ilmu ukur tanah, manajemen hutan, silvika, silvikultur, dendrologi, ekologi, serta sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan pendidikan. 

Konsep Pengelolaan Hutan Pendidikan Berbasis Masyarakat menjadi tuntutan bagi penyelenggaraan pendidikan sarjana kehutanan. Oleh karena itu, Hutan Pendidikan harus dikelola dengan pendekatan ekosistem dan pendekatan sosial ekonomi budaya masyarakat di dalam dan di sekitar Hutan Pendidikan. (hidayat tri)