Audit Lingkungan Mandiri Muhammadiyah

Makasar (855.news.com) -- Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah (MLH PPM) memiliki program-program strategik, baik dalam dataran KONSEPSUAL (meliputi penerbitan buku dan panduan praktis) maupun PRAKSIS (melalui Gerakan Peduli Lingkungan, Gerakan Menyelamatkan Bumi, Gerakan Menyejukan Bumi) yang kesemuanya bermuara pada Eco Friendly (eco house, eco village, eco mosque, eco tourism). Salah satu program MLH PPM yang akan dilaunching bertepatan dengan RAKORNAS pada 20-22 April 2018 di Makassar adalah Audit Lingkungan Mandiri Muhammadiyah (AliMM). 

Menurut Dr.Eng. Ahmad Sarwadi, Pengurus MLH PPM menegaskan bahwa “Audit  Lingkungan Mandiri Muhammadiyah bertujuan untuk meningkatkan kualitas kondisi dan pengelolaan bangunan dan lingkungan sekitarnya sehingga dampak merusak pada lingkungan hidup dapat diminimalisasi dan untuk menjaga kesehatan manusia dan ekosistem”. 

Selanjutnya Dosen Teknik Arsitektur dan Perencanaan FT UGM ini juga menjelaskan bahwa “ ALiMM mencakup komponen-komponen (1) Konservasi Energi (2) Konservasi Air (3) Pengelolaan Air Limbah dan Sampah (4) Keselamatan, Kenyamanan dan Keandalan Bangunan (5) Pengelolaan Tapak dan Lingkungan. Diharapkan ALiMM ini dapat digunakan oleh masyarakat pada umumnya dan pengelola bangunan pada khususnya agar pengelola bangunan dapat mengevaluasi tingkat keramahtamahan bangunan terhadap lingkungan dan dapat mengidentifikasi hal-hal yang harus diperbaiki atau ditingkatkan kinerjanya. Dalam implementasinya AliMM ini akan dilakukan oleh Asesor pada ALiMM Asesmen akan dilakukan oleh Pengguna dan atau pengelola bangunan. Oleh karenanya AliMM dikonsep menjadi instrumen yang simple dan relatif mudah untuk dijalankan. Untuk bangunan tinggi dan kompleks seperti bangunan industri dan rumah sakit bukan menjadi sasaran AliMM”, tandasnya. 

Persoalan lingkungan hidup yang makin komplek telah memberi dampak pada persoalan keberlanjutan pemanasan global, perubahan iklim, banjir, polusi udara, air dan tanah, menipisnya sumberdaya serta kualitas ekosistem yang menurun adalah contoh-contoh persoalan lingkungan yang dihadapi dunia pada saat ini. Berbagai kegiatan seperti industri, transportasi, pembangunan dan operasionalisasi bangunan merupakan kontributor pada kerusakan lingkungan hidup pada umumnya dan memunculkan terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. 

Pembangunan dan pengelolaan gedung mempunyai kontribusi pada kerusakan lingkungan hidup terkait dengan penggunaan bahan-bahan bangunan, konsumsi energi, dan polusi yang ditimbulkan serta pengelolaan air dan limbah.Upaya-upaya pembangunan dan pengelolaan gedung yang ramah pada lingkungan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kerusakan lingkungan hidup. Pendekatan perancangan bangunan yang ramah lingkungan seperti Green Building, Eco Architecture, Sustainable Architecture telah muncul demikian juga dengan sistem rating untuk menilai tingkat keramahtamahan bangunan pada lingkungan seperti yang dikeluarkan oleh US Green Building Council (LEED) dan Green Building Council Indonesia

Pemanasan global yang disertai dengan perubahan iklim membawa urgensi tersendiri untuk mengubah pola gaya hidup ramah lingkungan. Tak cukup dengan mendaur ulang sampah atau penghematan energi rumah tangga, landasan eco green pun mulai merambah ke sektor pembangunan. Pada kenyataannya, suatu bangunan, sejak dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengoperasiannya juga telah memberikan andil dalam permasalahan global warming dan kerusakan lingkungan. 

Banyaknya gedung-gedung yang tidak ramah lingkungan menjadi perhatian khusus Muhammadiyah. AliMM ini dapat disepadankan dengan konsep bangunan yang mempunyai performa tinggi tetapi juga memperhatikan faktor-faktor dan kondisi lingkungan serta berkelanjutan (sustainable). Oleh karenanya, bangunan  harus menerapkan prinsip-prinsip desain berkelanjutan (sustainable design) dalam konteks rancangan meliputi penghematan sumber daya alam (economy resources), perancangan selama daur hidup (life cycle design), dan rancangan yang manusiawi (human design). 

Bangunan dapat dikategorikan sebagai bangunan ramah lingkungan apabila memenuhi kriteria: a). menggunakan material bangunan yang ramah lingkungan; b). terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana untuk konservasi sumber daya air dalam bangunan gedung; c). terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana konservasi dan diversifikasi energi; d). menggunakan bahan yang bukan bahan perusak ozon dalam bangunan gedung; e). terdapat fasilitas,sarana, dan prasarana pengelolaan air limbah domestik pada bangunan gedung; f). terdapat fasilitas pemilahan sampah; g). memperhatikan aspek kesehatan bagi penghuni bangunan; h). terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana pengelolaan tapak berkelanjutan; dan i). terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana untuk mengantisipasi bencana (Permen LH No. 8 tahun 2010). (hidayat tri).