Perlu Gerakan Lingkungan Lintas Agama

Jakarta (855.news.com) -- Bencana yang terjadi akhir-akhir ini dengan intensitas yang semakin tinggi dengan tingkat kerusakan yang semakin tinggi pula dapat diindikasikan sebagai akibat terjadinya kerusakan lingkungan. Oleh karena itu,  degradasi lingkungan berarti degradasi kehidupan makhluk hidup termasuk manusia. Kerusakan lingkungan tentu akan berdampak pada dinamika dan kelangsungan kehidupan semua makhluk hidup tidak terkecuali manusia dan sifatnya universal. Permasalahan lingkungan timbul akibat terjadinya interaksi antara manusia dengan komponen lingkungan lainnya.

Dr. Gatot Supangkat, Sekjen MLH PP Muhammadiyah menegaskan bahwa “persoalan lingkungan merupakan hak asasi manusia, sehingga pendekatan yang harus dikembangkan dalam penyelesaiannya pun harus berdasar berbagai multi aspek, termasuk pendekatan pendidikan dan keagamaan. Oleh karena itu, diperlukan langkah terpadu berbasis masyarakat untuk melakukan aksi bersama (interfaith action) antar berbagai komponen masyakarat, terutama komunitas beragama. Mengelola lingkungan bagian dari ibadah dan memenuhi tugas dan fungsi sebagai khalifah”. Hal ini disampaikan pada acara Seminar “Atur Ulang Tata Ruang Bumi Nusantara” yang diselenggarakan oleh Persatuan Ahli Lingkungan Indonesia (Perwaku) di Gedung Rimbawan I KLHK Jakarta Pusat Sabtu, 28 April 2018.

Lebih lanjut Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini menandaskan “sikap dan perilaku terhadap lingkungan sesungguhnya menunjukkan kualitas iman seseorang sehingga memelihara lingkungan hidup merupakan bagian dari iman. Oleh karena itu, kesadaran manusia akan pentingnya Lingkungan dan Kebersamaan Menjaganya menjadi Kebutuhan”.

Senasib dan sepenanggungan dalam menghadapi permasalahan lingkungan di antara semua pemeluk agama menjadi modal dasar untuk membangun Gerakan Lingkungan Lintas Agama dalam upaya penyelamatan lingkungan. Sebagai sebuah gerakan, maka kita harus (1). Memanfaatkan alam yang tidak eksploitatif (tidak berlebihan) dan sekaligus melakukan konservasi adalah wujud syukur atas karunia-Nya (2), Bertindak yang bijak terhadap alam-lingkungan dalam harmonisasi hubungan dengan alam untuk mencapai Sistem Kesetimbangan Alam (Natural Equilibrium System) (3), Mengembangkan dan memanfaatkan teknologi yang berdamai dengan alam (4), Memulai dari diri sendiri, keluarga dan masyarakat serta mari kita mulai dari tempat ibadah (5), Melakukan aksi atau gerakan peduli lingkungan secara bersama karena sesungguhnya Manusia Bersaudara Dalam Rumah yang sama,(6), Membuat kebijakan, pengendalian dan penegakannya bagi pemerintah,(7) Saling berkomunikasi dan tukar informasi dalam kegiatan pengelolaan lingkungan secara bersama.

Muhammadiyah melalui Majelis Lingkungan Hidup telah merumuskan dan mengaplikasi program-program konkrit untuk penyelamatan lingkungan seperti (1) Sekolah Sungai Muhammadiyah (SSM) (2) Sekolah Sedekah Sampah (3) KKN Tematik Lingkungan Hidup (4) Gerakan Shodaqoh Sampah berbasis Masjid (5) Sekolah Lingkungan & Tangguh Bencana (6) Pengelolaan Gedung Ramah Lingkungan (7) Pengembangan Pengelolaan Hutan Pendidikan (8) Gerakan Menanam Pohon Produktif (9) Pengolahan Sampah Plastik menjadi Coneblok/kursi/meja taman (10) Gerakan Hijau Masjidku dan Bersih Udaraku (11) Sekolah Memanen Air Hujan (12) Sekolah Kehidupan bagi Anak Negeri.

Seperti diketahui bersama bahwa Kementerian Lingkungan Hidup berupaya mengingatkan pemerintah daerah tentang komitmen pengelolaan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan yang sudah dicanangkan di dalam Undang-Undang nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan, bahwa pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup. (hidayat tri)