Cara Baru Penilaian SBMPTN 2018

Jakarta (855.news.com) --  Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2018 (SBMPTN 2018) pada Selasa 8 Mei 2018. Total jumlah peserta SBMPTN 2018 ini mencapai 860.001 peserta calon mahasiswa. 

Ujian SBMPTN 2018 Panlok Jakarta diikuti oleh 74.927 peserta. Jumlah peserta SBMPTN 2018 Panlok Jakarta ini meningkat sebanyak 8,9 persen dibandingkan tahun 2017 (dengan total peserta 68.764 orang).

Pada tahun ini, SBMPTN kembali menerapkan dua metode ujian yaitu Ujian Tulis Berbasis Cetak (UTBC) atau Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

Hanya saja, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sistem penilaian ujian akan sangat berbeda. 

Metode penilaian ujian tertulis SBMPTN di tahun 2017 dan tahun-tahun sebelumnya dilakukan dengan menggunakan skor total dari jawaban peserta tes terhadap soal-soal tes yang diberikan.

"Peserta yang menjawab dengan benar akan mendapatkan skor 4, jawaban salah mendapatkan skor negatif (- 1) dan tidak menjawab akan mendapatkan skor nol. Teori yang mendasari prosedur penyekoran ini adalah Teori Tes Klasik," tulis pernyataan dalam laman resmi SBMPTN 2018. 

"Pada tahun 2018 metode penilaian tes dilakukan dengan prosedur yang berbeda dengan menerapkan Teori Tes Modern yang dikenal dengan Teori Respons Butir (Item Response Theory/IRT)."

Dengan metode penelitian ujian tertulis ini, panita mengungkapkan bahwa SBMPTN 2018 tak hanya memperhitungkan jumlah soal yang dijawab dengan benar atau salah oleh peserta, tapi juga memperhitungkan karakteristik tiap soal. Terutama pada soal dengan tingkat kesulitan yang relatif serta sensitivitasnya untuk membedakan kemampuan peserta. 

Sistem penilaian modern ini detailnya sebagai berikut: 

Tahap pertama, seluruh jawaban benar akan diberi skor 1 poin, dan skor 0 untuk yang tidak dijawab atau dikosongkan. 

Tahap dua, pendekatan teori response butir (item response theory) akan dilakukan. Setiap soal yang benar akan dianalisis kembali karakteristiknya misalnya dengan melihat tingkat kesulitan dibanding soal lainnya. 

Pada tahap tiga, karakteristik tiap soal yang didapatkan di tahap dua akan dipakai untuk menghitung skor peserta. Soal yang relatif sulit akan mendapat bobot yang lebih tinggi dibanding yang lain. 

"Dengan metode penilaian baru ini, maka setiap peserta yang dapat menjawab jumlah SOAL yang SAMA dengan BENAR, akan dapat memperoleh nilai yang SAMA atau BERBEDA tergantung pada soal mana saja yang mereka jawab dengan benar."

Metode penelitian seperti ini dianggap sudah lama digunakan oleh negara maju di Amerika dan Eropa. Dengan meneliti karakteristik tiap soal dianggap nantinya skor total akan lebih fair. Selain itu cara ini dianggap bisa membedakan kemampuan peserta lebih baik. 

"Hal ini dikarena metode penilaian pada SBMPTN 2018 membutuhkan persyaratan tertentu yang sulit dipenuhi, antara lain jumlah peserta tes sekitar 800.000 orang, jumlah dan kualitas soal akan direspon secara berbeda dari 800.000 peserta tes dan juga software model matematik yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda.(im)