Muhammadiyah Kampanyekan Mudik Ramah Anak & Disabilitas (MRAD)

Jakarta (855.news.com) -- PP Pemuda Muhammadiyah bersama PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Peserta Pelatihan Da’i Pelajar Muhammadiyah Nasional dan komunitas Jakarta Barrier Free Tourism (JBFT) menggelar Pre Event Edukasi Aksesibilitas, Buka Puasa dan Tarawih akses di Masjid Muhammadiyah Menteng Raya, Jakarta Pusat pada Sabtu 2 Juni 2018.

Dahnil Anzar Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah menjelaskan “Sejak tahun 2015 kami aktif bersama penyandang disabilitas mengkampanyekan Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD). Mereka telah menjalani 3 tahun sosialisasi dan ujicoba Mudik Ramah Anak dan Disabilitas, dimana Pemuda Muhammadiyah menjadi bagian dalam gerakan tersebut. Namun belakangan mereka merasa tidak lengkap, jika tidak dilengkapi dengan Masjid yang akses”.

Lebih lanjut beliau menjelaskan “Karena sesungguhnya persoalan saat Ramadhan tidak hanya Mudik, tapi kebutuhan 30 hari menjalankan ibadah Ramadhan yang akses, Untuk itu Pemuda Muhammadiyah mendorong agar segera ada silaturahmi antara penyandang disabilitas dengan Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin”, tandas Dahnil.

Kegiatan ini diawali dengan bersama-sama naik Commuter Line dari stasiun Jakarta Kota ke stasiun Gondang Dia kemudian jalan menuju Masjid At-Taqwa Muhammadiyah di kawasan Menteng.

JBFT merupakan komunitas penyandang disabilitas yang intens melakukan jalan jalan edukasi menghilangkan hambatan bersama masyarakat sipil. Terakhir, Di ulang tahunnya yang ke 6 pada bulan Maret 2018 lalu, gerakan mengedukasi masyarakat melalui menghilangkan hambatan mewujudkan aksesibilitas melakukan audit fasilitas publik bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Mereka menyusuri trotoar Sarinah menuju Perpustakaan Nasional di Jalan Merdeka.

Menurut M. Salman Al Farisi, PP IPM “kegiatan ini merupakan rangkaian acara dari PDPM Nasional. Seperti diketahui bahwa tantangan terpenting dalam isu disabilitas adalah memberikan masukan agar UU Penyandang Disabilitas terimplementasikan dengan tepat. Gerakan aksesibilitas di Indonesia sampai saat ini masih jauh dari harapan bagi disabilitas".

Sementara itu Trian Airlangga (disabilitas) menegaskan bahwa “momentum Ramadhan menjadi bagian terbaik bagi para penceramah mulai mengenalkan isu disabilitas dan bagaimana mereka bisa mengakses Masjid. Sebagai Tuna Netra tidak mudah untuk dapat mengakses Masjid. Mencari Masjid akses di pusat kota Jakarta tidak mudah, bahkan Masjid Istiqlal sekalipun. Pernah ketika bertanya, dimana tempat wudhu dan pintu masuk sholat di salah satu Masjid, dijawab pintunya di depan Pak. Kebayang harus nabrak sana sini karena tidak ada ubin petunjuk mengarah ke lokasi”.

Lebih lanjut Trian juga pernah mengalami masuk got dan langsung di steam, karena jatuhnya dekat cucian motor. Padahal ada kebutuhan yang harus dipahami dalam berinteraksi dengan penyandang disabilitas. Begitu juga teman teman tuli, butuh akses apa yang sedang dibicarakan khatib atau penceramah. Kursi roda juga ingin bisa membersihkan roda nya agar bisa bersih ketika masuk shaf.

Kondisi daerah seperti Jakarta, misalnya, telah mulai membenahi fasilitas agar disabilitas dapat mengakses dengan tanpa hambatan dan terlindungi dari bahaya. Kita dapat melihat trotoar dengan ukuran lebih lebar yang ramah disabilitas, dengan guide block dan portal S agar penyandang disabilitas dapat berjalan dengan nyaman dan pengendara motor tidak bisa melewati trotoar. Sarana dan fasilitas trotoar lainnya dibuat dengan permukaan rata serta taman dan ruang terbuka publik juga diberi guide block dan toilet ramah disabilitas agar masyarakat penyandang disabilitas bisa nyaman menikmati taman dan ruang publik. (hidayat tri)