Jejak Panjang B.M. Diah

Catatan Dasman Djamaluddin tentang Hari Pers Nasional

Hari Pers Nasional (HPN) selalu diperingati setiap tanggal 9 Februari. Pernah keberadaan Hari Pers ini digugat, tetapi sebagai orang yang sejak 1983 terlibat di dunia pers, saya menghormati perbedaan pendapat. Juga pada HPN tahun 2020 ini, saya menyambut peringatan ini pada hari Rabu, 29 Januari 2020 bersama pemilik Radio Suara Bekasi, di Bekasi, yaitu bersama Imam Trikarsohadi dan putra tokoh pers Burhanudin Mohamad (B.M) Diah, Nurman Diah.

Judul di atas, saya ambil dari judul video Imam Trikarsohadi yang memuat hasil dialog di Radio Suara Bekasi, Bekasi bersama saya dan Nurman Diah, putra B.M. Diah.

Sudah tentu berbicara tentang tokoh pers B.M. Diah, kita tidak bisa melepaskan perjuangannya sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945 dan sesudahnya ketika menerbitkan harian "Merdeka, " pada 1 Oktober 1945 hingga ia mengadakan wawancara dengan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet (PKUS) Mikhail Gorvachev di Kremlin pada 21 Juli 1987 yang disebutnya sebagai "Mahkota bagi Seorang Wartawan."

B.M. Diah meninggal dunia pada hari Senin, 10 Juni 1996 di usia 79 tahun. Lahir di Kotaraja (sekarang Banda Aceh) pada 7 April 1917. Bagai ungkapan "harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama, begitu pula B.M.Diah. Ia banyak meninggalkan catatan tertulis dan video kegiatan dan perjuangan hidupnya yang ditulis orang maupun oleh B.M. Diah sendiri.(*).