Prosa Liris dari Eka Budianta untuk Sang Jenderal

Oleh Dasman Djamaluddin

Dua hari yang lalu, saya memperoleh kiriman beberapa buku dari Damayanti Winoto. Di antara buku-buku tersebut, salah satunya buku otobiografi Jenderal D. Ashari berjudul: "D. Ashari antara Tugas & Hobby II " (Jakarta: Yayasan Wiratama 45, 2003).

Ketika membaca buku setebal 275 halaman tersebut, pandangan saya tertuju ke prosa liris atau puisi seorang penulis bernama Eka Budianta di halaman 22 dan 23 berjudul: " Jenderal & Kupu-Kupu."

Mengutip dari " Eksiklopedia Sastra Indonesia, " Eka Budianta mempunyai nama lengkap ialah Christophorus Apolinaris Eka Buianta Martoredjo. Ia lahir di Ngimbang, Lamongan, Jawa Timur, 1 Februari 1956. Ia anak kedua dari sembilan bersaudara. Ayahnya seorang petani dan ibunya guru SD. Dia penganut Katholik.

Istrinya, Melani Budianta, dosen Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Jakarta mempunyai tiga orang anak.

Pendidikan dasarnya diselesaikan di kampungnya sendiri, di Desa Ngimbang. Ia melanjutkan ke SMP, lalu ke SMA Katholik di Dempo, Malang. Setelah lulus SMA (1974), ia meneruskan pendidikannya ke Jakarta. Mula-mula ia masuk Akademi Teater LPKJ, tetapi tidak selesai, lalu masuk Jurusan Kajian Kesusastraan Asia Timur, kemudian beralih ke Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia (1975—1979, tidak selesai).

Terakhir, Eka Budianta mengikuti pendidikan jurnalistik di Los Angeles Trade-Technical College, Amerika Serikat (1980—1981). Ia pernah menjadi wartawan "Tempo" (1980—1983); koresponden koran Jepang "Yomiuri Shimbun" (1984—1986); asisten pada kantor Penerangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIC); BBC London, UNESCO, penerbit Puspa Swara, dan lain-lain.

Dia mulai menulis ketika di SMA (1972). Pada tahun 1972 ia telah menerbitkan sebuah buku kumpulan puisinya yang berjudul Bunga Desember. Tulisannya tersebar di berbagai surat kabar dan majalah, seperti "Sinar Harapan," Kompas," Berita Buana, Pelita, Merdeka, dan Kumandang (Jawa), serta Basis, Horison, Salemba, Tempo, dan Mastika(Malaysia). Dia menulis dalam bahasa Jawa, Indonesia, dan Inggris.

Cerpennya juga terbit di berbagai majalah. Juga puisinya yang diterbitkan dalam majalah. Bukunya yang telah terbit, antara lain, adalah (1) Bang-Bang Tut (kumpulan puisi, 1976); (2) Ada (kumpulan puisi, 1976); (3) Bel (kumpulan puisi, 1977); (4) Rel (kumpulan puisi, 1977); (5) Sabda Bersahut Sabda (antologi puisi bersama Azmi Yusoff, 1978); (6) Cerita di Kebun Kopi (kumpulan puisi, 1981); (7) Sejuta Milyar Satu (kumpulan puisi, mendapat pujian Dewan Kesenian Jakarta 1984); (8) Lautan Cinta(kumpulan puisi, 1988); (9) Rumahku Dunia (kumpulan puisi, 1993); (10) Menggebrak Dunia Mengarang(bacaan umum, 1992); (11) Dari Negeri Poci(antologi puisi, 1993); (12) Mengembalikan Kepercayaan Rakyat(esai, 1992); dan (13) Api Rindu(kumpulan cerpen, 1987).

Sejumlah puisinya dan karya beberapa sastrawan terkemuka yang lain telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Walking Westward in the Morning (antologi puisi dan prosa, 1990). Bersama F. Rahardi mereka mendirikan Yayasan Pustaka Sastra, yang mengkhususkan diri pada penerbitan karya sastra. Fajar Sastraadalah buku kumpulan puisi dwibahasanya yang dipadukan dengan foto-foto Boediharjo, diterbitkan oleh Pustaka Sastra 1997.

Ketika saya tanya, kapan kenal dengan Jenderal D. Ashari ? Ia menjawab: " Kami kenal alm Pak Ashari sejak 1980 di Los Angeles. Paling sering ketemu di Dana Mitra Lingkungan. Pernah ayah dan ibu saya diajak mengunjungi taman reptil dan serangga di TMII. Sungguh sedih kalau ingat pemakamannya di Tonjong, Bogor. Mobil jenasah terpisah cukup lama dengan mobil keluarga dan pendoanya."

Eka Budianta melanjutkan komentarnya: "Yang paling mengesankan, Pak Ashari bisa memanggil ikan dengan memasukkan tangan ke dalam air. Saya pernah diajari. Tapi tidak boleh disalah-gunakan."

Letnan Jendral (Purn) TNI D. Ashari, mantan Menteri Perindustrian Tekstil Kabinet Dwikora 1964-1966 telah meninggal di rumahnya, Jalan Padang Nomor 17, Manggarai, Jakarta Selatan, pada Jum'at, 2 April 2010 sore, pukul 18.35 WIB. Pria kelahiran Semarang, 3 November 1922 itu meninggalkan dua orang anak dari pernikahannya dengan Sri Hartati –yang meninggal pada 2006 lalu.

Ketika membantu Majalah LVRI "Veteran," saya pernah memuat berita tentang almarhum Jenderal D. Ashari yang menerima Medali World Veterans Federation (WVF), Selasa, 14 Desember 2010 di Gedung Graha Purna Yudha LVRI. Waktu itu, Ketua Umum LVRI, Letnan Jenderal TNI (Purn) Rais Abin, memimpin upacara penyerahan kepada kedua anak Jenderal D. Ashari.

Pada waktu itu, saya ikut menyaksikan dari jauh upacara penyerahan medali tersebut. Bagaimana pun juga, nama Jenderal D. Ashari, saya peroleh dari lingkungan para veteran ketika sedang menyusun buku: "Catatan Rais Abin, Panglima Pasukan Perdamaian PBB di Timur Tengah 1976-1979 (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2012).