Perlukah Membangun Kembali Rumah Bung Karno

Catatan Dasman Djamaluddin

Tanggal 17 Agustus 2020 semakin dekat. Juga hari lahir dan wafatnya Bung Karno di bulan Juni 2020, yang dikatakan juga sebagai bulan Soekarno perlu juga kita renungkan.

Dr.Ir. H. Soekarno adalah Presiden pertama Republik Indonesia yang menjabat pada periode 1945–1967. Ia memainkan peranan penting dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya dan meninggal pada 21 Juni 1970,di Jakarta.

Foto di samping adalah rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Saya mencuplik tulisan saya sendiri dari Kompasiana, bahwa rumah pribadi Presiden Republik Indonesia Pertama, Ir. Soekarno di Pegangsaan Timur 56, Jakarta, apakah perlu dibangun kembali atau tidak.

Pada waktu itu, Bung Karno yang berada di Jakarta Pusat karena jasa Syech Faradj bin Martak, seorang pengusaha Indonesia keturunan Arab, membeli rumah tersebut untuk kediaman Bung Karno.

Sekarang, jalan tersebut sudah diganti menjadi Jalan Proklamasi 56 Jakarta. Tetapi beberapa tahun yang lalu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sedang memproses untuk kembali mengganti nama menjadi nama semula, yaitu Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Sebab, berdasarkan catatan sejarah Kemerdekaan Indonesia, tempat dibacakannya teks proklamasi kemerdekaan adalah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, yang sekarang telah berdiri Tugu Proklamasi. Tetapi menjelang 17 Agustus 2020, berita itu tidak terdengar lagi.

Sekarang, rumah bersejarah itu tidak ada lagi. Rumah itu diruntuhkan Bung Karno pada tahun 1962. Entahlah kenapa diruntuhkan oleh pemiliknya sendiri, kita pun tidak mengetahuinya.

Sebelum menjadi presiden pada tahun 1945, Ir. Soekarno telah mendiami rumah tersebut bersama istrinya, Ibu Inggit Ganarsih. Baca Ramadhan KH: "Kuantar ke Gerbang" (Jakarta: Sinar Harapan, 1988). Halaman 284 dari buku itu:

"Aku merasa beruntung karena kami pindah rumah dari 'Oranje Boulevard 11 ke Pegangsaan Timur 56...," ujar Ibu Inggit Ganarsih, istri Bung Karno.

Tetapi Ibu Inggit Ganarsih hanya sebentar mendiami rumah tersebut bersama Bung Karno hingga jelang Proklamasi 17 Agustus 1945 dibacakan. Jelang Bung Karno menjadi Presiden, Ibu Inggit tidak lagi mendampingi Bung Karno.

Pada waktu itu, rumah telah ditinggalkan Ibu Inggit sebelum proklamasi karena keinginan ia sendiri agar diceraikan Bung Karno, sebab presiden pertama Indonesia itu ingin menikah lagi dengan Ibu Fatmawati. 

Halaman 288, alinea pertama buku Cindy Adam berjudul "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" (Jakarta: Ketut Masagung Corporation, 2001), Bung Karno bercerita:

"Inggit mengamuk seperti orang gila. Dia berteriak-teriak kepadaku. Barang-barang beterbangan dan sebuah cangkir mengenai pinggir kepalaku," ujar Bung Karno.

Ibu Inggit telah meninggal dunia pada 13 April 1984 di usia 96 tahun. Bagaimana pun selama 20 tahun mendampingi Bung Karno, Ibu Inggit Ganarsih memang kemarahannya bisa dikatakan wajar marah atau mengamuk. Itu sangat manusiawi. Siapa pun akan melakukan hal tersebut, jika akan diduakan. Itu juga menunjukkan rasa cinta sejati Ibu Inggit kepada suaminya, Bung Karno. 

Saksikanlah wajah Ibu Inggit ketika Bung Karno menjumpainya untuk meminta maaf dan ketika ia berdiri di samping jenazah Bung Karno yang meninggal dunia lebih dahulu dari Ibu Inggit, pada 21 Juni 1970. Wajah Ibu Inggit selalu ikhlas menerima apa pun yang terjadi. 

Kembali kepada rumah pribadi Ir. Soekarno, bagaimana pun sebaiknya rumah itu dibangun kembali. Bukan hanya untuk kepentingan kita saja, tetapi yang lebih penting untuk generasi  sesudah kita. Generasi penerus.

Lihatlah bagaimana anak Bung Karno bersama Fatmawati, yaitu Megawati Soekarnoputri. Ia tidak puas dengan film ayahnya "Soekarno. " Film drama Indonesia itu dirilis pada 11 Desember 2013. Film ini dibintangi oleh Ario Bayu dan Maudy Koesnaedi yang pernah disaksikan oleh rakyat Indonesia.

"Tidak menunjukkan ketokohan Soekarno sesungguhnya... mereka tidak meminta klarifikasi dari keluarga," ujar Megawati, mantan Presiden RI tersebut.

Pada dasarnya, pembuatan film tokoh sejarah harus melalui diskusi mendalam. Apalagi membuat film seperti Soekarno, Bapak Bangsa Negara RI. Jika keliru mamaknai, menjiwai roh film tersebut, akan dinilai banyak orang bahwa film itu mencederai nasionalisme bangsa.

Lihat proses film Slank saja "Slank Nggak Ada Matinya", diikuti anggota Slank dari awal sampai siap diputar di bioskop dengan seksama. 

"Dari proses mematangkan skenario, shooting, editing, hingga soundtrack, anak-anak Slank, terutama aku, pasti hadir," ujar Bimbim.

Tidak hanya itu, pemilihan para pemain. .. juga sesuai permintaan Slank. Jangan sampai citra dan taste-nya jauh dari Slank." Itulah proses pembuatan film Slank yang seharusnya dicontoh.

Jika Slank saja melakukan hal tersebut, apalagi film "Soekarno." Kita tidak ingin pula film selalu dikaitkan dengan komersial semata, sebagaimana Megawati katakan.

"Ya, komersil silakan, tetapi penghayatan tentang film yang dibuat jangan tidak terwakili."(*)