Baitul Arqom; Ajang Peningkatan Ghirah Bermuhammadiyah

Oleh

Hidayat Tri Sutardjo

(Dosen Institut Bisnis Muhammadiyah Bekasi)

Selama dua hari, 15 dan 17 Mei 2020, Institut Bisnis Muhammadiyah (IBM) Kota Bekasi menggelar Baitul Arqam bagi Dosen dan Karyawan. Kegiatan ini sudah dirancang lama dan akan diselenggarakan pada Bulan April 2020 tetapi karena ada wabah Covid-19, maka kegiatan ini tetap dilaksanakan walau agak mundur dan dilaksanakan dengan Daring.

Baitul Arqom secara daring ini mengambil tema “Puasa sebagai sarana peningkatan iman dan momentum peneguhan ideologi Muhammadiyah”. Menurut Rektor IBM Bekasi, Dr. Jaenudin, MPd. Menegaskan bahwa “Momentum Ramadhan yang berbarengan dengan musim pandemi ini memberi hikmah kepada kita untuk mendapatkan pembelajaran dan pencerahan, meski dalam keterbatasan jarak tidak mengurangi semangat kita untuk meningkatkan pemahaman keislaman dan kemuhammadiyahan”.

Sedangkan Ketua BPH IBM Bekasi Prof Dr Masyitoh Chusnan menjelaskan bahwa Ramadhan adalah waktu untuk kita memperbaiki kualitas diri serta untuk memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. “Tujuan berpuasa adalah agar kita menjadi orang yang bertakwa, yang secara patuh dan taat menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan Allah SWT. Maka ibadah ramadhan yang kita jalankan harus mampu melahirkan perilaku hidup yang lebih baik”.

Tujuan Darul Arqom ini adalah sebagai salah satu ajang untuk menyamakan visi dan gerak dalam mengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) seperti Institut Bisnis Muhammadiyah ini. Melalui Baitul Arqam, dosen dan karyawan yang sebelumnya tidak atau belum mengenal lebih jauh Muhammadiyah, bisa mengenalnya. Begitupun bagi dosen dan karyawan yang sudah mengenal tentang Muhammadiyah Baitul Arqam kali ini sebagai penguatan.

Seperti kita ketahui bahwa bermuhammadiyah itu berproses, maka tidak heran bila latar belakang warga Muhammadiyah itu sangat beragam, termasuk di lingkungan IBM Bekasi. Ada yang bermuhammadiyah karena bekerja di Muhammadiyah. Ada yang bermuhammadiyah karena menjadi guru atau dosen di AUM. Menjadi Muhammadiyah karena melihat kinerja Muhammadiyah di lapangan sosial, dan banyak lagi. Karena latarbelakang dan motivasi bermuhammadiyah yang beragam tersebut, maka perlu ada penyamaan visi dan gerak.

Dr. Muhammad Qorib M.Ag (Dekan FAI UMSU) sebagai natasumber menjelaskan bahwa Muhammadiyah selalu menggunakan dua pendekatan yang menyangkut masalah masalah ilmu pengetahun, yaitu: pendekatan bayani dan pendekatan burhani.

Pendekatan bayani merupakan refleksi keteguhan terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dikonteksasi dengan situasi sosial yang sedang berkembang. Adapun pendekatan burhani, secara filosofis dimaknai sebagai kemahiran melakukan analisa-analisa sosial.

Berangkat dari pendekatan tersebut, lahirlah pedoman hidup Islami warga Muhammadiyah yang merupakan pedoman untuk menjalani kehidupan dalam lingkup pribadi, keluarga, bermasyarakat, berorganisasi, mengelola AUM, berbisnis, mengembangkan profesi, berbangsa dan bernegara, melestarikan lingkungan, mengembangkan ilu pengetahuan dan teknologi, dan mengembangkan seni dan budaya yang menunjukkan perilaku uswah hasanah (teladan yang baik).

Dalam memahami dan mempelajari Muhammadiyah kita memerlukan tiga pendekatan: Pertama, pendekatan sejarah (culture) di mana kita berusaha mentrasfer semangat para pendiri Muhammadiyah untuk diaktialisasikan dalam kehidupan sehari-hari di masa kini. Kedua, pendekatan struktural (structure) untuk bisa memahami orientasi kerja organisasi untuk kemaslahatan umat manusia. Dan ketiga, adalah pendekatan ideologis (ideology) agar tidak kehilangan visi dan misi dalam bermuhammadiyah.

Sementara itu, Drs. H. Jamjam Erawan, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat dalam kesempatan ini menguraikan tentang Muqadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, di mana di dalamnya mengandung tujuh pokok pikira, yakni

  1. “Hidup manusia harus berdasar Tauhid (meng-esakan) Allah: ber-Tuhan, ber ibadah serta tunduk dan taat hanya kepada Allah”.
  2. “Hidup manusia itu bermasyarakat”.
  3. “Hanya hukum Allah yang sebenar-benarnyalah satu-satunya yang dapat dijadikan sendi untuk membentuk pribadi yang utama dan mengatur ketertiban hidup Bersama (masyarakat) dalam menuju hidup bahagia dan sejahtera yang haqiqi, di dunia dan akhirat”.
  4. “Berjuang menegakan dan menjunjung tinggi agama Islam untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, adalah wajib, sebagai ibadah kepada Allah erbuat ihsan dan islah kepada manusia/masyarakat”.
  5. “Perjuangan menegakan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarkat Islam yang sebenar-benarnya, hanyalah akan dapat berhasil bila kita mengikuti jejak (ittiba’) perjuangan para Nabi terutama perjuangan Nabi Muhammad SAW”.
  6. “Perjuangan mewujudkan pokok pikiran pokok pikiran tersebut hanyalah dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan berhasil, bila dengan cara atau berorganisasi. Organisasi adalah satu-satunya cara atau perjuangan yang sebaik-baiknya”.
  7. “Pokok-pokok pikiran/prinsip-prinsip/pendirian-pendirianseperti yang diuraikan dan diterangkan di muka itu, adalah yang dapat untuk melaksanakan ideologinya terutama untuk mencapai tujuan yang menjadi cita-citanya, ialah terwujudnya masyarakat adil dan makmur lahir bathin yang diridlai Allah, ialah MASYARAKAT ISLAM YANG SEBENAR-BENARNYA”.  

Lebih lanjut Jamjam menegaskan bahwa lahirnya muqodimah Anggaran Dasar Muhammadiyah ini dibuat oleh Ki Bagoes Hadikoesoemo (Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah tahun 1942-1953), dengan bantuan beberapa orang sahabatnya, dimulai menyusunnya pada tahun 1945 dan disahkan pada siding tanwir tahun 1951. Muqadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah tersebut merupakan hasil ungkapan Ki Bagoes Hadikoesoemo menyoroti Kembali pokok pikiran pokok pikiran almarhum KH A. Dahlan yang merupakan kesadaran beliau dalam perjuangan selama hidupnya, yang antara lain  hasilnya ialah berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah. Ki Bagoes berharap mudah-mudahan dengan Muqadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah ini dapatlah kiranya Muhammadiyah dijaga, dipelihara dan atau ditajdid agar selalu dapat dengan jelas dan gambling diketahui APA DAN BAGAIMANA MUHAMMADIYAH ITU. 

Sudah satu abad, Muhammadiyah telah menyelenggarakan pendidikan pada 36 universitas, 70 sekolah tinggi, 55 akademi, 4 politeknik. Memiliki 1132 Sekolah Dasar (SD), 1769 Madrasah/Ibtidaiyah (MI), 1184 SMP, 534 MTs, 511 SMA, 263 SMK, 172 MA, dan 67 Pondok Pesantren. Inilah hasil gerakan tajdid Muhammadiyah. Maka secara amaliah dapat dikatakan bahwa organisasi yang didirikan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia merupakan organisasi dengan amaliah terbesar di Indonesia. Hasil-hasil inilah hanya dapat diperoleh dengan semangat dan keteguhan hati yang menurut KH Soekandar Ghazali, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bekasi, bahwa “risalah kenabian haruslah disyiarkan secara ikhlas agar mendapat ridho Ilahi. Sebagaimana harapan yang terkandung dalam nama ‘Muhammadiyah’, yaitu orang orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Berjuang penuh keikhlasan demi mengharap ridho Ilahi”.

*) tulisan ini adalah catatan penulis sebagai peserta Baitul Arqom IBM Bekasi.