Pentingnya Kualitas dan Kuantitas

Oleh

Hidayat Tri Sutardjo

(Dosen Institut Bisnis Muhammadiyah/IBM Bekasi)

Dua kata ini memang menantang untuk menjadi perdebatan berpikir. Sampai saat ini masih banyak yang mempertentangkan mana yang lebih penting kualitas atau kuantitas? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kualitas itu berkaitan sama tingkat baik atau buruknya sesuatu. Sedangkan kuantitas berkaitan dengan jumlah atau banyaknya sesuatu.

Perdebatan klasik ini yang selalu dipertanyakan mana yang lebih diutamakan. Sebenarnya keduanya sangat erat hubungannya dan tidak bisa dipisahkan bahkan keduanya ahdalah saling berpasangan, saling berkaitan dan saling membutuhkan.

Banyak sudah penelitian yang menunjukkan hasil bahwa untuk mencapai kualitas harus dimulai dari kuantitas terlebih dahulu karena hal ini akan mempengaruhi harga jual dan banyak dilirik konsumen kalau itu menyangkut produk barang atau jasa. Tidak ada orang yang bisa mencapai kualitas yang bagus, tanpa ada usaha awal yang ditunjukkan oleh kuantitas.

Untuk membuat sebuah produk baik itu barang maupun jasa yang berkualitas tentunya diperlukan perencanaan yang matang. Karena produk yang berkualitas membutuhkan riset dan pengembangan (R & D) yang mendalam. Dari hasil riset dan pengembangan tersebut nantinya produk akan dibangun berdasarkan data yang telah diperoleh. Data-data ini penting karena dalam sebuah produk data akan menjadi sebuah argumentasi dari sebuah produk yang akan diproduksi.

Selanjutnya yang dibutuhkan adalah sebuah komitmen karena produk yang berkualitas sangat menguras banyak sumber daya dalam proses pencapaiannya. Proses produksinya membutuhkan waktu yang lama, tenaga yang lebih banyak, dan dalam beberapa kasus membutuhkan modal yang tidak sedikit pula. Itu sebabnya dalam membuat produk yang berkualitas komitmen untuk menyelesaikan produksi menjadi sesuatu hal yang sangat penting.

Komitmen untuk memproduksi sebuah produk yang berkualitas ini harus dilakukan secara konsisten, sistematik dan berkesinambungan agar mendapatkan dan meningkatkan kepercayaan kepada calon konsumen. Artinya produk barang atau jasa yang dihasilkan tersebut secara bertahap akan mencapai kesempurnaan atau produk yang diproduksi tersebut kualitasnya dapat ditingkatkan sejalan dengan berjalannya waktu.

Dalam ketika yang sama, kuantitas adalah salah satu yang mempengaruhi kredibilitas sebuah produk dan memerlukan kecekatan dan ketangkasan dalam memproduksi. Seiring dengan waktu kuantitas juga akan membuat produksi barang atau jasa menjadi semakin berkualitas. Dengan secara terus menerus berproduksi akan menambah pengalaman sehingga akan membuka pintu kreativitas dan keinginan untuk terus mencapai kesempurnaan.

Artinya, dengan mendahulukan kualitas, sepertinya kuantitas akan terlengkapi dan segala kemungkinan yang terburuk pun dapat terhindarkan. Untuk itulah, diperlukan suatu komitment yang kuat agar siklus yang demikian dapat bertahan terus menerus sehingga ketika terjadi pertentangan kembali, maka keduanya dapat diajak untuk merefleksikan kembali bagaimana keduanya sangat penting dalam menghasilkan sesuatu produk baik barang atau pun jasa.

Menurut Tjiptono (2008) kualitas produk itu memiliki beberapa dimensi antara lain :

  1. Performance (kinerja), merupakan karakteristik operasi dan produk inti (core product) yang dibeli. Misalnya kecepatan, kemudahan dan kenyamanan dalam penggunaan.
  2. Durability (daya tahan), yang berarti daya tahan menunjukan usia produk, yaitu jumlah pemakaian suatu produk sebelum produk itu digantikan atau rusak. Semakin lama daya tahannya tentu semakin awet, produk yang awet akan dipersepsikan lebih berkualitas dibanding produk yang cepat habis atau cepat diganti, Daya tahan (Durability), berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan. Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur ekonomis penggunaan produk.
  3. Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu kesesuaian yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Misalnya pengawasan kualitas dan disain, Standar karakteristik operasional adalah kesesuaian kinerja produk dengan standar yang dinyatakan suatu produk. Ini semacam “janji” yang harus dipenuhi oleh produk. Produk yang memiliki kualitas dari dimensi ini berarti sesuai dengan standarnya,
  4. Features (fitur), merupakan karakteristik atau ciri-ciri tambahan yang melengkapi manfaat dasar suatu produk. Fitur bersifat pilihan atau option bagi konsumen. Fitur bisa meningkatkan kualitas produk jika kompetitor tidak memiliki fitur tersebut, Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (features), merupakan karakteristik sekunder atau pelengkap.
  5. Reliability (reabilitas Keandalan) yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal pakai. Misalnya pengawasan kualitas dan desain, standar karakteristik operasional kesesuaian dengan spesifikasi,
  6. Aesthetics (estetika) yaitu daya tarik produk terhadap panca indera, misalkan bentuk fisik, model atau desain yang artistik, warna dan sebagainya,
  7. Perceived quality (kesan kualitas) yaitu persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk. Biasanya karena kurangnya pengetahuan pembeli akan atribut atau ciri-ciri produk yang akan dibeli, maka pembeli mempersepsikan kualitasnya dari aspek harga, nama merek, iklan, reputasi perusahaan, maupun negara pembuatnya, Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality), yaitu citra dan reputasi produk serta tanggung jawab perusahaan terhadapnya.
  8. Serviceability, yaitu kualitas produk ditentukan atas dasar kemampuan diperbaiki (Serviceability), meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi serta penanganan keluhan yang memuaskan. Produk yang mampu diperbaiki tentu kualitasnya lebih tinggi dibandingkan dengan produk yang tidak atau sulit diperbaiki.

Salah satu contoh yang menarik adalah perusahaan TOYOTA, mereka membuat produk dengan berbagai macam kualitas, mulai dari yang low hingga yang high. Tetapi beda dengan BMW, di mana produk yang mereka buat selalu dalam tataran high, walaupun BMW sendiri membagi-bagi produknya menjadi beberapa kelas. Semua ditujukan untuk pasar yang berbeda. Selain itu, BMW juga menjual asesoris yang berbeda-beda sesuai dengan tingkatan konsumen yang telah terbentuk. Memulai dari tingkan ekonomis hingga tingkat eksklusif mereka menyediakan. Hal ini menunjukkan bahwa semua produk baik barang ataupun jasa pasti mempunyai pangsa pasar sendiri dan konsumen akan mengejar kepuasaan dengan mencari produk berkualitas kecuali mereka tidak memiliki banyak pilihan karena keterbatasan.

Sebagian besar kualitas sebuah produk berasal dari disain produknya, sehingga untuk itu dibutuhkan ahli disain produk yang bisa menjaga biaya produksi tetap terkendali. Salah satu cara misalnya dengan mengurangi jumlah komponen yang diperlukan, merampingkan disain dan menghilangkan redundansi (berlebih-lebihan yang sebenarnya tidak perlu).

Kualitas sebuah produk tetap akan menjadi tujuan utama, tetapi kalau kita terlalu fokus terhadap kualitas, maka kemungkinan produk kita akan sangat terlambat diluncurkan. Tetapi ketika produk kita selalu dalam kondisi tidak berkualitas tanpa adanya perbaikan secara terus menerus, maka kemungkinan besar konsumen akan meninggalkan produk kita.

Dengan demikian, kualitas dan kuantitas ini saling berpasangan, saling berkaitan dan saling membutuhkan serta berpengaruh terhadap perkembangan bisnis kita. Seorang manajer bisnis tidak boleh sepenuhnya mengabaikan pentingnya kualitas produk daripada kuantitas. Kualitas dan kuantitas produk harus menjadi opsi yang menarik untuk digunakan dalam sistem operasi bisnis kita.***