Inggit Ganarsih, Perannya Mendampingi Bung Karno Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

Oleh Dasman Djamaluddin

Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75, tahun 2020, akan berbeda, karena semakin merebaknya virus corona.

Meskipun demikian, setelah 75 tahun Indonesia merdeka, tetap saja peristiwa berlangsungnya pembacaan naskah Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, menjadi momen bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Nama Soekarno-Hatta, waktu itu, sejak 1945 hingga hari ini, tetap disebut sebagai yang mewakili bangsa Indonesia, karena kedua tokoh bangsa ini telah dipercaya oleh generasi muda dan tua ketika hadir di rumah Laksamana Muda Jepang, Maeda, yang sekarang menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi, di Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta Pusat tersebut.

Bedanya, sekarang, tidak seorang pun bisa melihat wujud asli rumah pribadi Presiden Republik Indonesia Pertama, Ir. Soekarno di Pegangsaan Timur 56, Jakarta itu. Rumah bersejarah itu telah dibongkar Bung Karno pada tahun 1962. Entahlah kenapa dibongkar oleh pemiliknya sendiri, kita pun tidak mengetahuinya.

Sejarah mencatat, sebelum menjadi presiden pada tahun 1945, Ir. Soekarno telah mendiami rumah tersebut bersama istrinya, Ibu Inggit Ganarsih. Baca Ramadhan KH: "Kuantar ke Gerbang" (Jakarta: Sinar Harapan, 1988).

Halaman 284 di buku itu, Ibu Inggit mengatakan: "Aku merasa beruntung karena kami pindah rumah dari 'Oranje Boulevard 11 ke Pegangsaan Timur 56..."

Tetapi Ibu Inggit Ganarsih tidak sampai mendiami rumah tersebut bersama Bung Karno hingga Proklamasi 17 Agustus 1945 dibacakan dan setelah Bung Karno menjadi presiden. Rumah itu telah ditinggalkan Ibu Inggit sebelum proklamasi karena keinginan ia sendiri agar diceraikan Bung Karno, sebab presiden pertama Indonesia itu ingin menikah lagi dengan Ibu Fatmawati. 

Bung Karno menperjelas pernyataan Ibu Inggit di halaman 288, alinea pertama buku Cindy Adams berjudul "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" (Jakarta: Ketut Masagung Corporation, 2001) :

"Inggit mengamuk seperti orang gila. Dia berteriak-teriak kepadaku. Barang-barang beterbangan dan sebuah cangkir mengenai pinggir kepalaku," ujar Bung Karno.

Jadi sekaligus membantah kritikan dari keluarga besar Ibu Inggit bahwa Ibu Inggit tidak mungkin melakukan hal itu.

Ibu Inggit telah meninggal dunia pada 13 April 1984 di usia 96 tahun. Bagaimana pun selama 20 tahun mendampingi Bung Karno, Ibu Inggit Ganarsih wajar marah atau mengamuk. Itu manusiawi. Itu juga menunjukkan rasa cinta sejati Ibu Inggit kepada suaminya, Bung Karno. 

Meski sudah berpisah, rasa cinta Ibu Inggit kepada Bung Karno tidak berubah. Saksikanlah wajah Ibu Inggit ketika Bung Karno menjumpainya untuk meminta maaf dan ketika ia berdiri di samping jenazah Bung Karno yang meninggal dunia lebih dahulu dari Ibu Inggit pada 21 Juni 1970. Wajah Ibu Inggit selalu ikhlas menerima apa pun yang terjadi. 

Kemba ke masalah rumah pribadi Ir. Soekarno, bagaimana pun sebaiknya rumah itu dibangun kembali. Bukan hanya untuk kita, tetapi yang lebih penting untuk generasi  sesudah kita. Generasi penerus.

Siapa Ibu Inggit

Inggit Ganarsih lahir di Jawa Barat pada 17 Februari 1888 dan meninggal dunia 13 April 1984 di usia 96 tahun.

Perawakannya yang kecil dan sekuntum bungga selalu melekat di sanggulnya itu mampu menaklukan hati seorang Soekarno, yang kelak menjadi Presiden Pertama Republik Indonesia. Ia memang tidak ikut mendampingi Soekarno ketika menjadi presiden, tetapi ia berhasil memberi semangat untuk menjadikan seorang Soekarno memperoleh gelar insyinur di Institut Teknologi Bandung (nama sekarang).

Soekarno tercatat pernah menuntut ilmu di Kota Bandung itu sekira tahun 1920 dan pada saat menjalani studinya di Bandung, Soekarno menjalin asmara dengan Inggit Garnasih yang merupakan ibu pemilik rumah di mana Soekarno tinggal.

Meski Inggit sudah bersuami, Soekarno nekad tetap meminta izin kepada suami Inggit Garnasih, H Sanusi untuk menikahi Inggit. Akhirnya setelah mendapatkan izin, Soekarno menikahi perempuan yang lebih dikenal dengan nama Ibu Inggit ini pada tahun 1923. Di sisi usia, Soekarno lebih muda 13 tahun dari Ibu Inggit. Akan tetapi jalinan cinta mereka mengalahkan segala-galanya.

Setelah menikah, Ibu Inggit dan Soekarno membeli sebuah rumah di Jalan Ciateul Bandung yang kini dikenal dengan nama Jalan Inggit Garnasih. Sampai saat ini, rumah Ibu Inggit masih berdiri kokoh, namun telah beralih fungsi menjadi museum rumah bersejarah Inggit Garnasih.

Di dalam rumah Ibu Inggit sendiri saat ini dapat ditemukan dokumentasi foto-foto Ibu Inggit bersama Soekarno serta keluarga Ibu Inggit. Selain itu,  terdapat replika batu pipisan yang digunakan Ibu Inggit untuk membuat jamu dan bedak. Dari hasil jerih payah ini, Ibu Inggit mampu membantu kebutuhan dana untuk Soekarno.

Juga di dalam buku Ramadhan KH di halaman 201, Ibu Inggit mengatakan:

"Aku telah menjual segala milikku yang masih ada, antaranya rumah keluarga dari pihak ibuku...karena kami kapan kami bisa kembali ke Bandung."

Memang selama 20 tahun,  Ibu Inggit dan Soekarno hidup bersama, namun akhirnya harus berpisah. Setelah berpisah Ibu Inggit menghabiskan sisa hidupnya di Bandung. Perpisahan itu terjadi ketika usia Ibu Inggit 50 tahun.

Setelah berpisah dengan Soekarno, Ibu Inggit tidak pernah bertemu dengan Soekarno sampai pada akhirnya pada tahun 1960, Ibu Inggit bertemu lagi.

Ketika Ibu Inggit bertemu Soekarno, ia hanya berkata "Kus, baju teh meni sae. Kahade kus ieu baju teh ti rakyat, ulah mapohokeun saha nu merena". Soekarno sudah tentu paham dengan artinya, karena ia lama menetap di Bandung.

Kalimat bebahasa Sunda yang dilontarkan Ibu Inggit tersebut memiliki arti "Kus (Soekarno), bajunya bagus sekali. Awas kus baju ini dari rakyat, jangan melupakan siapa yang memberinya". Kus itu kependekan dari nama panggilan Soekarno. Kus itu nama kecil Soekarno dari Kusno.(*)