Muhammadiyah Kota Bekasi Gelar Rakor Mubaligh

Kota Bekasi (855.news.com) -- Majelis Tabligh PDM Kota Bekasi gelar Rapat Koordinasi & Muzakarah Mubaligh dan Mubalighot se-Kota Bekasi pada Ahad, 8 Desember 2019 di Kampus Institut Bisnis Muhammadiyah Bekasi. Rakor & Muzakarah ini merupakan kegiatan pertama yang telah dirancang beberapa waktu lalu oleh Majelis Tabligh PDM Kota Bekasi, karena dirasa cukup mendesak dan menarik sehubungan dengan persoalan dakwah sedang menjadi sorotan karena pemerintah mulai mengerat gerakan dakwah.

Dakwah secara etimologi berasal dari bahasa arab dari kata :دعا – يدعو– دعوة yang berarti memanggil, menyeru, mengajak menjamu. Maka dakwah dapat diartikan memanggil, mengundang, mengajak, menyeru, mendorong ataupun memohon Pengertian mengajak dalam dakwah sudah kita pahami bahwa dakwah punya prinsip untuk mengajak orang lain dari kejahilan kepada kebenaran, dari kegelapan kepada terang benderang. Banyak hal yang sudah diketahui oleh para penyeru Islam tentang dakwah dalam bentuk mengajak, baik dalam dakwah bi allisan, bi al-hal, ataupun bi arrisalah. Jadi dakwah adalah suatu proses penyampaian/penyeruan informasi Ilahiyah kepada para hamba manusia yang merupakan bagian dari kehidupan individu muslim.

Sementara tabligh mempunyai arti menyampaikan dengan maksud menyampaikan ajaran Allah kepada masyarakat dari lisan para Nabi dan Rasul Allah. Tabligh menjadi sifat Rasulullah Muhammad SAW dalam menunaikan amanah sebagai utusan Allah, ayat yang Allah wahyukan kepada beliau tak pernah disembunyikan sedikitpun. Dan dari keteladanan beliau, ajaran Allah tersampaikan ke hadapan manusia sebagai pengokohan Dakwah Tauhid yang dicontohkan manusia paripurna sepanjang zaman.

Dakwah Islam mengalami berbagai dinamika dalam pelaksanaannya, dimulai pada zaman Rasulullah yang melakukan dakwah sirriyah di Makkah dan dakwah jahriyah dan berkembang membangun Madinah yang ditegakkan nilai ajaran Islam. Dilanjutkan pada masa Khulafaur Rasyidin yang melakukan ekspansi dakwah Islam ke negeri Afrika, Persia dan Romawi. Indonesia sebagai kepulauan yang jauh dari Makkah dan Madinah merasakan dakwah Islam lewat utusan dari para Khalifah pada saat itu yang berjumlah 9 orang, yang pada akhirnya disebut dengan Walisongo atau Wali Sembilan sampai lahirnya beberapa Kesultanan Islam di Nusantara dari Samudera Pasai sampai Tidore.

Proses mengalami perubahan pada saat dakwah Islam hanya dipegang oleh para ‘Alim ‘Ulama yang pada akhirnya muncul gerakan Islam yaitu “Muhammadiyah” pada 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan. Muhammadiyah yang didirikan beliau memperluas cakupan Da’wah dari sekadar pengamalan ibadah mahdhah menjadi pengamalan ibadah sosial seperti mendirikan Sekolah, mendirikan panti asuhan yatim hingga mendirikan “Penolong Kesengsaraan Oemoem”. KH. Ahmad Dahlan mengartikan dakwah Islam tidak hanya untuk penerapan pengamalan Ibadah Umat Islam namun berupaya meningkatkan kualitas hidup Umat Islam agar dapat bersaing dengan kalangan bangsawan dan priyayi yang terkontaminasi paham free manson.

Salah satu mubaligh, peserta Rakor & Muzakarah yang tidak mau disebutkan namanya menegaskan bahwa “adanya tudingan Ustadz radikal menambah luka di hati umat Islam. Luka itu semakin dalam ketika penguasa melakukan sertifikasi mubaligh. Tentu tujuannya untuk mengetahui mana mubaligh radikal dan mana mubaligh moderat”.

Tantangan Dakwah ke depan semakin komplek dan memerlukan peningkatan kualitas yang signifikan. Oleh karena itu, Mubaligh & Mubalighoh Muhammadiyah harus responsif terhadap tantangan ke depan sehingga kebutuhan dan pemahaman tentang Peta Dakwah harus senantiasa ter-update. Hal sejalan dengan pnedapat Ustadz Abu Deedat Shihab, Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Bekasi “tantangan dakwah dapat dilihat dari semakin suburnya aliran kepercayaan dan aliran sesat lainnya yang semakin masif. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi mubaligh dan mubalighoh Muhammadiyah”.

Komunikasi sebagai alat dalam menyampaikan pesan dan kontrol lingkup gerakan menjadi sangat penting bagi Majelis Tabligh, baik Daerah, Cabang maupun Ranting. Kecanggihan alat dalam berkomunikasi tidak menjadikan pesan menjadi bermanfaat karena kembali kepada si pemberi pesan dan penerima pesan. Apabila keduanya saling memahami dan bersepakat meraih tujuan bersama, maka usaha-usaha yang ditempuh akan mudah dan efektif. (ht).